0823330716557
ibnufaza33@gmail.com
Jl. Raya Barat No.39 Kebonharjo, Jatirogo,Tuban, Jawa Timur

Sejarah Pondok

Tuban terkenal dengan keberadaan Waliullah. Sejumlah ulama’ tercatat pernah menyebarkan Islam di kota ini. Hal iutlah yang membuat Tuban menjadi kota dengan jumlah pesantren cukup banyak. Salah satu pesantren terkenal dan cukup tua di Tuban adalah Nahdlatuth Tholibin Al-Islamiyyin (NTII) Kebonharjo Jatirogo. Pesantren yang juga terkenal dengan keberadaan pohon kelapa bercabang sembilannya itu. Tidak heran, banyak juga masyarakat sekitar yang menyebutnya sebagai ‘Pondok kelopo ngepang’. Pesantren ini menurut sejumlah sumber termasuk salah satu pesantren tua yang berdiri di Tuban. Pesantren ini dipercayai sudah berdiri sejak tahun 1948. Itu artinya, saat ini usianya sudah lebih dari setengah abad. Sang pendiri adalah seorang ‘Alim terkenal pada waktu itu, yakni KH. M Ridlwan. Dalam mendirikan pesantren ini, beliau dibantu oleh ulama’ lainnya, yakni mbah Munawar serta mbah Murtadlo. KH. Alam Farid, salah seorang pengasuh PP NTI kepada reporter Al-Ittihad, Selasa (24/12) sore mengungkapkan, tadinya PP NTI bukan di lokasi yang saat ini ditempati. Sebelumnya pesantren ini berada di komplek masjid desa. Namun, selaku pendiri, KH. Ridlwan menginginkan pesantren ini lebih berkembang. Maka, pembangunan dengan alakadarnya mulai dilakukan di lokasi yang lebih luas. Akhirnya, tempat tinggal santri dan aula dengan bentuk panggung mulai dibangun untuk sarana pengajian. “Dulu lokasi pondok bukan disini. Tempatnya dulu di komplek masjid desa. Namun karena untuk pengembangan, akhirnya lokasi pesantren dipindah di tempat yang sekarang kalian gunakan mengaji itu,” ungkap kyai yang akrab disapa Gus Mad ini. Terkait dengan nama, Gus Mad menyebutkan, Nahdlatuh Tholibin Al-Islamiyyin dipakai lantaran maknanya memiliki nilai filosofi sangat tinggi. Jika diartikan tiap kata, Nahdlath artinya adalah tujuan, Tholibin merupakan jamak dari tholib yang artinya beberapa santri serta Al-Islamiyyin artinya Islam. Sehingga, kata Nahdlatuth Tholibin Al-Islamiyyin memiliki maksud menjadi pondasi tujuan para santri dalam belajar ilmu Islam. “Tujuan pesantren ini memang ingin mencetak santri yang bukan hanya tahu Islam, tetapi juga memahami dan tentu saja mengamalkannya,” imbuhnya. Pada awal berdirinya, sekitar seratusan santri belajar dan berguru kepada KH. Ridlwan, KH. Munawar serta KH. Mustadlo. Ulama’ inilah yang membimbing santri dalam mempelajari Islam melalui kitab-kitab salaf yang sudah ada. Sepeninggalan KH. Ridlwan, KH. Munawar serta KH. Murtadlo, PP. NTI sekarang di bawah asuhan KH. Fatchorrahman, yang tak lain merupakan putra dari KH. Ridlwan. Dalam membimbing santri, KH. Fatchurrhaman juga dbantu oleh putranya, KH Alam Farid dan juga dua kepnakannya, KH Khafid Kalamillah serta K. Mohtar. Di bawah asuhan KH. Fatchorrahman, PP. NTI semakin berkembang dan hingga kini memiliki sejumlah lembaga yang bersanding bersama dalam memperjuangkan Islam. Lembaga-lembaga itu antara lain adalah MTs Ulumiyyah dan MA Unggulan Ulumiyyah. Hingga kini, para alumni PP. NTI menyebar ke seluruh pelosok Jawa, bahkan Indonesia. Berdasarkan catatan, Saat ini ada sekitar 250 santri mukim dan kalong yang belajar di PP. NTI. Kajian Fiqh dan Nahwu masih menjadi salah satu menu wajib bagi santri. Selain itu, saat ini juga ada tambahan program untuk rintisan Tahkfid. Menurut penurutan Gus Mad, sudah banyak santri yang tertarik untuk mengikuti program itu di bawah arahan istri beliau, Hj. Fikriyah. “Sama dengan pesantren lain, santri disini belajar Fiqh dan Nahwu. Dan baru-baru ini pesantren juga mencoba mengembangan program Takhfid bagi para santri,” pungkas Gus Mad.

Foto-sejarah Foto-sejarah
Pendiri Pondok

Pendiri Pondok

KH. Ridlwan

KH. Ridlwan mendirikan Pondok NTI yang terletak di Desa Kebonharjo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban — dikenal pula sebagai “Pondok Kelopo Ngepang. Pesantren tersebut mulai dirintis sekitar tahun 1956, Bersama ulama lain, beliau mengawali pondok tersebut dengan santri awal sekitar seratus orang, yang kemudian tumbuh menjadi lembaga pendidikan Islam tertua dan berpengaruh di Tuban.

Visi KH. Ridlwan dalam mendirikan NTI adalah membentuk generasi santri yang tidak sekadar menghafal ilmu agama, tetapi memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara mendalam menjadikan pesantren sebagai pusat pengajaran agama Ahlussunnah wal-Jamaah dengan metode pesantren tradisional (salaf). Warisan beliau terus berlanjut melalui para pengasuh dan generasi berikutnya, sehingga NTI tetap eksis hingga kini sebagai pondok pesantren penting di wilayah tersebut.

VISI

“Membangun SDM yang memiliki kekuatan Moral, Intelektual, Mandiri"

MISI

a. Mengefektifkan pelayanan umat melalui Pendidikan & Dakwah
b. Mewujudkan kemandirian ekonomi melalui optimalisasi potensi SDA disertai dengan kearifan lokal .
c. Meningkatkan mutu dan kualias SDM dengan Imtaq dan Iptek .

TARGET

a. Terciptanya Sumber Daya Manusia Berilmu (Knowladge Building)
b. Terciptanya Sumber Daya Manusia Yang Terampil (Skill Building)
c.Terciptanya Sumber Daya Manusia Yang Berkepribadian (Attitude Building)

#